Since 2012 I have been developing visual art projects. The Indonesian mass killings / violences in 1965 is my first project. This is a serial on going project. Up until know I have already completed 3 series which are BLACK LEGACY (2012), VICTIMS & VERSIONS (2013 - 2014) and THEY KILLED THEM (2014 - 2015).

Sejak tahun 2012 saya mengembangkan proyek seni visual. Tentang pembunuhan / kekerasan massal di Indonesia pada tahun 1965 adalah proyek pertama. Ini adalah sebuah proyek serial kontinyu dan hingga sekarang saya sudah menyelesaikan 3 seri, yaitu : KOTAK WASIAT (2012), KORBAN-KORBAN & VERSI-VERSI (2013 - 2014) dan MEREKA TELAH MEMBUNUH (2014 - 2015). Dalam konteks proses seni seni konkret, memang proyek ini saya mulai tahun 2012, namun idenya sendiri bertumbuh jauh sebelumnya berseiring dengan proses intensifikasi saya dalam memperhatikan issu ini termasuk melakukan riset-riset sederhana.

Kotak Wasiat / Testamen Box / Black Legacy

Testament Box is the first in this series where I scoped aspects of history of the ’65 Affair'; a massacre and persecution against members of Indonesian Communist Party in 1965 - late 60s. At least around 2 millions were murdered and the persecution has been going on until today. History is a collective mirror where we can look at ourselves as a nation. When a very vital mirror is dark and obscured (because this incident changed Indonesia in a drastic and fundamental way) then we do not truly know who we ourselves are. We don’t know where we come from and where we are heading. This installation work was exhibited in Jogjakarta Indonesia in 2012.

Kotak Wasiat adalah karya seri pertama saya yang membidik aspek sejarah dari 'Peristiwa 65'; yaitu pembantaian dan penindasan terhadap anggota-anggota Partai Komunis Indonesia di tahun 1965 sampai akhir 60an. Setidaknya sekitar 2 juta orang dibunuh. Penindasan ini sejatinya terus berlangsung hingga hari ini. Sejarah adalah cermin kolektif untuk melihat diri kita sebagai bangsa. Ketika satu cermin sangat vital (sebab peristiwa ini merubah total drastis fundamental Indonesia) ini gelap, maka kita tak mengenali siapa kita sesungguhnya. Kita tak tahu dari mana berasal dan hendak kemana menuju. Karya instalasi ini dipamerkan di Tembi Rumah Budaya, Jogjakarta Indonesia pada tahun 2012.

Korban & Versi / Victims & Versions

Victims & Versions explored aspects of victims and various versions from the Indonesian mass killings - violence in ‘65 Affair'; a massacre and persecution against members of Indonesian Communist Party in 1965 - late 60s. At least around 2 millions were murdered. The persecution has been going on until today. It attempted to represent the vastness and complexity of understandings about ‘victims’ while investigating various versions of ‘facts’, viewpoints and narratives related to the ’65 event. This series was developed since 2013 and continued during my Artist In Residency program at Perth Institute of Contemporary Arts, Australia in 2014 which was also set up as studio exhibition as well.

Korban2 & Versi2 mengeksplorasi aspek-aspek korban dan versi dalam 'Peristiwa 65'; pembantaian dan penindasan terhadap anggota-anggota Partai Komunis Indonesia di tahun 1965 sampai akhir 60an. Setidaknya sekitar 2 juta orang dibunuh. Penindasan ini sejatinya terus berlangsung hingga hari ini. Saya berusaha merepresentasikan keluasan dan kompleksitas pengertian korban sekaligus investigasi berbagai versi 'fakta', sudut pandang, narasi mengenai peristiwa ini. Korban2 & Versi2 saya kembangkan tahun 2013 dan berlanjut selama program residensi di Perth Intitute of Contemporary Arts, Australia tahun 2014 dimana karya ini sekaligus dipamerkan di studio saya.

Mereka Telah Membunuh / They Killed Them

They Killed Them; explore the perpetrators in the Indonesian mass killings / violences - '65 Affair'; a massacre and persecution against members of Indonesian Communist Party in 1965 - late 60s. At least around 2 millions were murdered. The persecution has been going on until today. Explore their acts of cruelty and their motives. It is also an introspective searching into the depths of our dark desires, all of us. Because these perpetrators were not aliens who lived for only 2 hours long in a Hollywood thriller movie with its fictional violence. Rather they were real human beings just like us, who committed real acts of violence, that spilled real blood of real human beings. Exhibited at Moores Building Contemporary Art Gallery, Fremantlle Australia in 2015.

Mereka Membunuh; menelusuri pelaku dalam pembunuhan / kekerasan massal di Indonesia - 'Peristiwa 65';  yaitu pembantaian dan penindasan terhadap anggota-anggota Partai Komunis Indonesia di tahun 1965 sampai akhir 60an. Setidaknya sekitar 2 juta orang dibunuh. Penindasan ini sejatinya terus berlangsung hingga hari ini, Menelusuri tindakan kekejamannya dan motifnya. Ini juga pencarian introspektif ke dalam ceruk-ceruk gelap hasrat kita semua. Sebab para pelaku ini bukan makhluk asing yang hanya tinggal selama 2 jam dalam filem triler Holiwud dengan kekerasan fiktifnya. Melainkan manusia nyata, yang melakukan kekerasan nyata, menumpahkan darah nyata dari korban manusia nyata.

Tulisan pengantar saya untuk projek ketiga ini dapat disimak di : Dari Bob Dylan, Tentang Dr. King, Gandhi, Yesus Hingga Jutaan Tak Bernama.

Puisi yang saya baca saat pembukaan pameran dapat disimak di : Aku Adalah Kebusukan.