Di samping itu, jangan lewatkan seratus lebih tulisan relaksasi saya meliputi cerita pendek, puisi, kenangan masa kecil, terjemahan puitik dari lirik-lirik lagu berbahasa inggris kegemaran saya, sinopsis / plot karya pertunjukan, sampai artikel hingga sekedar racauan keadaan. Juga copy-paste tulisan-tulisan menarik tentang apa saja yang bagi saya menarik. Semuanya hanya di http://kotbahdidotklasta.blogspot.com


(Pada Dasarnya) 'RUMAH' Saya (Selalu) Di Salatiga.

Saya suka mengenang sebab : 1. Kontradiksi 'kebaikan' dan 'keburukan', 'keasyikan dan 'ketidakasyikan', 'kebahagiaan' dan 'keremukan' ... meluruh jadi mutiara refleksi. 2. Ketika menyadari sudah sampai sejauh mana / apa ziarah peradaban kita, manakala ada hal-hal yang memburuk (sialnya hal-hal ini banyak) kita jadi punya orientasi untuk 'kembali'. 3. Pada dasarnya kita tidak sedang dalam perjalanan 'pergi', tapi perjalanan 'kembali'.

Saya tak pernah kemana-kemana, apalagi benar-benar meninggalkan kota ini. Lahir di Tingkir (dulu kecamatan Suruh kabupaten Semarang Jawa Tengah, sekarang masuk wilayah kotamadya Salatiga) tahun 1969. Umur 2-3 tahun pindah ke Salatiga kota. Akhir 80an sampai awal 90an kuliah di Jogja, ngekos dan rutin pulang Salatiga. Putus kuliah kembali ke Salatiga. Akhir 90an mencoba cari (arti) hidup di Jogja, ngontrak dan rutin pulang ke Salatiga. Demikian berjalan sampai menikah tahun 2007, kami ngontrak di dusun Karangbalong kecamatan Tengaran kabupaten Semarang, sepelemparan batu dari rumah orangtuaku di dusun Jagalan Salatiga dan sepelamunan pendek sudah sampai Ramayana Mall di pusat kota. Dua tahun kemudian kami pindah ke Bancaan Salatiga kota, sebelah kuburan cina. Setahunan lebih kemudian kami pindah ke Jogja, seperti biasa rutin pulang ke Salatiga. Setahun kemudian kami pindah ke Australia. Oleh pertimbangan biaya tiket pesawat, kami hanya PULANG maksimal 2 kali setahun; sebuah proses hidup yang menarik sekaligus cukup berat, mungkin sebab selalu rindu 'rumah', dan 'rumah' berarti Salatiga. Tahun depan, awal 2016, kami akan pindah ke Salatiga lagi, ke sebelah kuburan cina itu. Kudengar Pak Rebo dan Slamet sudah meninggal beberapa waktu lalu. Semoga damai abadi tetanggaku. Dan semoga rumah persis di belakang rumah kami tak lagi dipenuhi cewek-cewek mahasiswa yang berisik tidak keren dengan musik-musik ya ampun yang membuatmu pesimis dengan masa depan Indonesia. Amin.

Berikut ini poto-poto tempo dulu mengenai Salatiga dan sekitarnya yang saya kumpulkan dari berbagai sumber di internet. Keterangan poto yang belum lengkap akan dilengkapi saat saya mendapat tambahan informasi, sedang sumber foto dan sumber informasi foto sengaja tidak saya terakan agar anda yang tertarik menelusuri tidak sekedar terima jadi saja, tapi juga mendapat kesempatan untuk agak berpayah-payah gogling. Saat ini saya sudah mengumpulkan 160 lebih poto dan akan saya unggah sedikit demi sedikit dengan santai karena hidup bukan hanya tentang mengunduh dan mengunggah. Saya tidak menguasai ilmu dan hukum hak publikasi, semoga pemuatan poto-poto ini oke-oke saja. Setidaknya dalam konteks nilai sejarah sosial, menurut saya dokumentasi ini adalah milik publik, inklusif. Yang jelas tidak dalam rangka saya jadikan duit dan yang jelas tentu berguna bagi (banyak) orang lain, khususnya mereka yang punya hubungan apapun dengan (sejarah) Salatiga dan sekitarnya. Selamat introspeksi.

Klik pada gambar untuk melihat satu persatu dengan ukuran lebih besar.

Pembangunan jalan kereta api menghubungkan stasiun Kedungjati (kab. Grobogan Jawa Tengah) dengan benteng Willem I di Banyubiru (kab. Semarang Jawa Tengah) melewati lembah sungai Tuntang. 1870 (di poto sejenis yang lain tertera 1857 - 1874).

Murid sekolah perawat Rumah Sakit Sipil pusat Semarang sedang piknik ke Muncul (kec. Banyubiru kab. Semarang); daerah sumber mata air besar dekat Salatiga dengan pemandangan elok. 21 Nopember 1926.

Candi Gedong Songo, di atas Bandungan, lereng gunung Ungaran kab. Semarang. 1927.

Pembangunan jalur kereta api melewati daerah Gogodalem kec. Bringin kab. Semarang. 1870.

Prosesi penguburan cara Cina di Salatiga. 1911.

SMP Negeri 1 Salatiga tempu dulu. Tahun entah. Tahun 1982 saat aku mulai masuk, lapangan depan kanan sudah menjadi lapangan basket?

Pernikahan orangtua Van Halen rock bros; Jan Van Halen dan Eugenie Van Beers. Orangtua Eugenie Van Beers pernah tinggal di Salatiga sekian waktu (bahkan Opa Frans Van Beers meninggal di Salatiga 25 April 1921). Jakarta 11 Agustus 1950. Untuk cerita sedikit lebih detil silahkan menengok https://www.facebook.com/didotklasta.harimurti/posts/10205498293472579

Sebuah acara yang diselenggarakan keluarga Dezentje di rumah mereka di Ampel (dekat Salatiga) dimana mereka mengundang sejumlah ningrat, salah satunya putra mahkota kraton Surakarta. ca 1900.

Serdadu Smulders dari Tilberg Belanda menyalakan rokok Charles Bronson, rakyat petani Salatiga. 8 Oktober 1947.

Stasiun kereta api Ambarawa. Dulunya bernama Willem 1 sesuai dengan nama raja Belanda waktu itu yang memerintahkan pembangunannya. Stasiun ini menghubungkan trayek Ambarawa - Kedungjati dengan lebar jalur 1435 mm dan Ambarawa - Jogjakarta dengan lebar jalur 1067 mm. Kini menjadi museum KA Ambarawa. ca 1910.

Tempat mandi untuk pribumi di Salatiga. Apakah ini yang sekarang Kali Wedok Kalitaman? ca 1930.

Pasar kotapraja Salatiga. 1911.

Hotel Kopeng (dilihat dari atas). 1935.

Para perempuan sedang menanam padi. Salatiga. 1901.

Lapangan gereja Kristen. Nampak gereja, hotel dan gardu listik. Kemungkinan besar foto diambil dari sekitar perempatan dekat Hotel Quality sekarang menghadap bunderan / Ramayana Mall. 1925.

Posisi artileri medan pasukan kerajaan Hindia Belanda (KNIL, Koninklijk Nederlands Indisch Leger) di Salatiga. 1910.

Kesenian rakyat Kuda Lumping. Salatiga. 1912.

Sebuah sekolahan jaman Hindia Belanda di Salatiga yang diselenggarakan oleh Zending (misi pekabaran Injil Belanda - Kristen). Tahun entah.

'Sang arjuna keren' di antara para bidadari jelita dan kanak-kanak jawa.  Menurut keterangan sumber, dia adalah penjual krupuk. Tepi jalan dari Salatiga arah ke Boyolali. 1918.

Anak-anak panti asuhan yang terletak di pinggir jalan ke Semarang (Toentangscheweg / jalan Diponegoro) yang dikelola organisasi (atau gereja?) Kristen Bala Keselamatan / Salvation Army / Leger des Heils sedang berpoto bersama para pengasuhnya. ca 1930.

Beberapa orang Eropa nampang di pertigaan legendaris mBawen (kab. Semarang). Dari posisi mobil di tengah poto, tampaknya mereka sedang melakukan perjalanan dari Magelang atau bahkan Jogjakarta. Jika terus ke arah Semarang, jika belok kanan ke arah Salatiga. Menariknya di bagian depan mobil tertulis angka 86. Hisgen & Co. ca 1915.

Stasiun kerata api berdinding bambu di kecamatan Jambu kab. Semarang Jawa Tengah. A. van Staveren. antara 1890 - 1906.

Pasar Selo; sekarang sebuah kecamatan di ketinggian antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi di kabupaten Boyolali. Sekitar 45 km dari Salatiga lewat Boyolali. 1932.

Jembatan bambu yang indah di daerah sekitar rumah G.B.F. van der Schoot; komandan pasukan kavaleri KNIL di Salatiga. ca 1910.

Areal sumber mata air Senjoyo (desa Tegalwaton kec. Tengaran kab. Semarang Jawa Tengah). 1925.

Dimasa sebelum Agresi Militer II, gerilyawan republik melancarkan psywar dengan mengirimkan surat-surat pemberitahuan bahwa mereka telah menanam ranjau di pemukiman sipil sekitar Salatiga yang dikuasai Belanda. Juli 1948.

Jembatan di atas kali / sungai Setro, Salatiga. 1918.

Patok penanda garis demarkasi antara wilayah Republik dan NICA di sekitar jembatan Kali Tanggi Klero kec. Tengaran kab. Semarang paska persetujuan Renville yang difasilitasi oleh Komisi Tiga Negara (AS, Belgia, Australia). 1948.

Pemandangan daerah Kalitaman Salatiga. 1918.

Penjual minuman es keliling di daerah perkotaan Salatiga.Sampai pertengahan 70an saat aku masih kecil masih ada. 1951.

Suasana di pasar hewan Salatiga. 1918. Apakah tempatnya adalah Pasar Sapi sekarang?

BERSATOE LAH! Sebuah poster kaum republikan (Republik Indonesia) di daerah Ambarawa (Jawa tengah) pada masa agresi militer Belanda 1 / Operatie Product / Operation Product. 28 Juli 1947.

Perempuan-perempuan siswa sekolah (?) ketrampilan rumahtangga di Jogjakarta sedang berwisata di Kopeng lereng Gunung Merbabu dekat Salatiga. ca 1935.

Plakat retak pada sebuah tugu (?) di Ambarawa bertulis, dalam bahasa Indonesia, Rawa Pening (danau di dekat Ambarawa) meluap-luapkan api. Sungai Tuntang (berhulu di Rawa Pening) banjir darah. 'Asarah topi' agak membingungkan. Untuk penanggalan di situ juga tertulis versi jawa, dengan 'sengkalan' cara simbolik secara terbalik untuk menunjukkan sebuah tahun jawa tertentu.. Wikoe - Wiku - Gunung = 7. Sapto - Sapta = 7. Ngesti - Usaha = 8. Tunggal = 1.

Pintu gerbang Pasar Salatiga. 1925

Louise Charls Ort dan keluarga dalam perjalanan ke Kopeng di lereng Merbabu Salatiga. ca 1923.

Selayang pandang rakyat Kopeng (lereng Merbabu 15 km dari Salatiga) dan pejabat setempat. 1934.

Grafiti revolusi kemerdekaan di tembok sebuah rumah di Salatiga masa Agresi Militer Belanda I. 1947.

Karnaval drum band dari sebuah sekolah menengah atas di Salatiga. 1971.

Truk berpenumpang sedang diganti rodanya. Salatiga. 1925.

Seorang petani berangkat ke sawah. Salatiga. 1966.

Stasiun kereta api Kedungjati. 1870.

Rakyat Salatiga menunggu pembagian pakaian oleh Palang Merah (internasional).  18 September 1947.

Poto udara daerah sekitar gereja Katolik Roma Salatiga, diambil dari pesawat Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaartmaatschappij (KNILM) / perusahaan penerbangan kerajaan Hindia Belanda. 1920 - 1940.

Suze Pik-Kunst dan anjingnya yang bernama Soelami di Kopeng; tempat rekreasi lereng Gunung Merbabu, Barat Daya Salatiga. Oktober 1934.

Para peserta kursus / murid sekolah guru putri (untuk sekolah desa? - sekolah desa adalah sekolah SD namun hanya sampai kelas 3 = sekolah Ongko Loro) di depan sekolahnya yang sekarang menjadi SMPN 2 Salatiga di jalan Kartini. 5 Oktober 1928.

Perhelatan yang diadakan di desa Dadapam menyambut? Resimen Infantri 2-6 Brigae Macan. 8 Dec 1947.

Mener Meyer sedang berdiri di dekat plang penunjuk jalan. Melihat nama-nama kota dan jarak tempuhnya, dugaanku ini di tempat yang sekarang dikuasai Ramayana Mall, eks lapangan Tamansari, eks Kerkplein (lapangan gereja). Mener Meyer sendiri adalah keturunan tentara dari Afrika di India. Antara 1930 - 1935.

Dari Semarang bala tentara Jepang masuk ke kota Salatiga yang berjarak 50 km di Selatan Semarang. Maret 1942. 

Selingan

Menjelang eksekusi pemimpin PKI Ciamis, Dirja dan Egom, paska pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda. 1927. 

Bubur ketan hitam di Jawa baheula. Jadi apa anak-anak itu saat dewasa? 1938. 

Aktor legendaris Indonesia era 40an sampai 70an Tan Tjeng Bok (tengah, terkenal dengan julukan Si Item / Pak Item, juga Douglas Fairbank van Java - superstar Holiwood waktu itu) bersama Tardjo Mulio dan Marlia Hardy dalam filem Melarat Tetapi Sehat. 1954.

Sebuah karcis pertunjukan musik rock di stadiun Kridosono Jogjakarta, dengan selingan lawak kondang Junaedi. 1981.

Suasana persidangan di Landraad (pengadilan negri kotapraja Hindia Belanda untuk kaum pribumi), Jawa. 1890.

Dalam perjalanan ke Amerika Serikat untuk bertemu dengan presiden Kennedy, presiden Sukarno mampir ke Hawai dan bertemu presiden rock n roll Elvis Presley. Dalam buku 'Elvis The King Of Hawaii' yang menyertakan poto ini, Sukarno disebut sebagai'raja Burma'. 21 April 1961.

Sinterklaas (dari bhs Belanda atau Sint Nicolass, Inggris : Saint Nicholaus. Beda dengan Santa Claus)) sedang nongkrong di pinggir jalan Surabaya. 1938.

Demikianlah salah satu gambaran suasana berlebaran dalam keluarga Jawa. 1925.

Saking terkenalnya organisasi massa Sarikat Islam waktu itu sampai dipakai sebagai merek sepeda, seperti yang terlihat pada iklan dalam koran Oetoesan Hindia terbitan 6 Agustus 1914.

Ki Hadjar Dewantoro dan murid-muridnya di sekolah guru (kweekschool) Taman Siswa. 1928.

Dalam dan wayang kulitnya dalam sebuah pertunjukan. Jawa 1890.

Brigade V memasuki Surakarta Jawa Tengah saat agresi militer Belanda kedua. Di latar depan nampak serdadu wajib militer M.A.P de Lange berpose sesuai permintaan juru poto agar bayonetnya nampak berkilat oleh sinar matahari. 21 Desember 1948.