Alongside the strengthening of my tendency to be political I discovered 'my theatre' after joining Augusto Boal’s ‘theatre of the oppressed’ workshop early 90s. Combining my love for theatre with the passion to work with grassroot communities, I developed a contemporary popular theatre where I mixed Augusto Boal’s methode with community resources mobilization. I also developed specific theatre program focuses on Augusto Boal's techniques in facilitating critical thingking development within small groups, especially among youth.

Seiring dengan penajaman kecenderungan untuk politis, saya menemukan 'teater saya' setelah mengikuti workshop 'teater kaum tertindas' ala Augusto Boal awal tahun 90an. Dengan mengkombinasikan kecintaan pada teater dan hasrat untuk bekerja bersama komunitas marjinal, saya mengembangkan teater rakyat kontemporer yang memadukan metode Augusto Boal dan mobilisasi sumberdaya lokal komunitas. Saya juga mengembangkan program teater spesifik berfokus pada tekhnik-tekhnik Augusto Boal untuk memfasilitasi pengembangan pemikiran kritis dalam kelompok-kelompok kecil khususnya remaja - pemuda/i.

Perjalanan Yang Asyik

Pementasan sebagai sessi terakhir dari workshop 'Teater Rakyat' di desa Jumapolo kec. Jumapolo kab. Karanganyar Jawa Tengah 1991(?). 'Teater Rakyat' adalah penamaan yang diperkenalkan oleh semacam gerakan teater untuk penguatan akar rumput yang mengadopsi metode Teater Kaum Tertindas dari Augusto Boal. Workshop 'Teater Rakyat' ini pada dasarnya meliputi pembangunan keeratan kelompok, dasar-dasar pendidikan kritis untuk memahami struktur penindasan lewat olah dasar teater (terutama olah tubuh), dasar analisa sosial, pembuatan naskah melalui riset lapangan dan analisa hasil riset lewat diskusi bersama dengan melibatkan warga setempat, pengadeganan diakhiri dengan pentas dan evaluasi - refleksi. Saya berperan sebagai makhluk halus penunggu pohon beringin, dimana soal klenik ini membiaskan cara warga memahami kenyataan dan persoalannya serta bagaimana merespon situasi (mentabiri kesadaran kritis). Di satu sisi bagi penguasa setempat pohon beringin dan penunggunya ini dipakai untuk mengukuhkan status quo, di sisi lain bagi rakyat menjadi media fatalisme. Kalau tak salah ingat begitu.

Setelah mengenal teater ‘konvensional’ tahun 1989 lewat teater kampus Teater Gajah Mada dan sempat sekilas membaca-baca buku Theatre Of The Oppressed karya Augusto Boal yang sudah diterjemahkan, saya benar-benar mengenal bentuk Teater Kaum Tertindas - Augusto Boal lewat sebuah lokakarya bertema sekitar ‘menumbuhkan kesadaran sosial kaum muda’ yang diselenggarakan oleh - kalau tak salah ingat - komunitas Wisma Mahasiswa Surakarta; yaitu sebuah tempat sekaligus wadah aktifitas mahasiswa-mahasiswi katolik di Surakarta yang dibina oleh almarhum Romo J. Adi Wardoyo SY. Itu tahun 1991. Saya datang mewakili keluarga mahasiswa katolik Universitas Gajah Mada Jogjakarta.

Serampungnya lokakarya saya langsung mengumpulkan sejumlah teman mahasiswa katolik di Jogjakarta dan menyelenggarakan sebuah pementasan teater yang saya sutradarai dengan bentuk mengadopsi Teater Kaum Tertindas. Selanjutnya kelompok baru ini bernama Institut Teater Rakyat Yogyakarta. Teater Rakyat adalah nama padanan yang dipakai aktifis-aktifis Teater Kaum Tertindas khususnya di Jogjakarta mulai awal 80an. Setelah berproses dengan ITRY dimana saya menjadi fasilitator sekitar dua tahunan, saya non aktif untuk waktu yang cukup lama.

Setelah mencoba mulai berkiprah lagi dengan teater kampung 17an di Pugeran pinggiran Ring Road Utara Jogjakarta awal 2000an dimana dalam prosesnya saya melarikan diri sebab untuk kesekian kalinya jatuh cinta, tahun 2004 saya benar-benar berteater lagi, bahkan RESMI. Yaitu dengan menjadi pelatih teater di Universitas Satya Wacana Salatiga secara berbayar dan kena pajak. Teater yang saya kembangkan pada dasarnya konvensional - sesuai permintaan pasar. Namun dalam prakteknya saya kombinasikan dengan metode-metode Teater Kaum Tertindas, terutama dalam hal pembangkitan kesadaran kritis secara internal melalui bentuk-bentuk latihan tertentu. Kalau kukilas balik, saya jadi berpikir-pikir; teman-teman itu jadi kritis atau saya yang terbawa enjoy dengan teater konvensional, nikmatnya bermegalomania sebagai pelatih, sutradara dan penulis naskah terhebat seantero kotahahaha …

2006 adalah tahun kunci dalam sejarah Teater Kaum Tertindas Dan Saya, dimana saya memperoleh peluang untuk menggabungkan 3 hal dalam teater yang kemudian sangat saya nikmati. 3 hal ini meliputi elemen teater konvensional, berbasis komunitas dan dalam kerangka Teater Kaum Tertindas. Proyek pertama saya adalah mengembangkan program teater anak-anak sebagai bagian dari program tanggap bencana di sebuah desa di pinggiran Jogjakarta paska terjadi gempa besar. Di tahun yang sama saya juga berkesempatan menjalankan sebuah projek teater bersama komunitas desa Tegalwaton kabupaten Semarang yang kemudian disusul dengan projek teater bersama komunitas desa Ngombak kabupaten Grobogan.

Setelah bertemu dengan perempuan idola yang juga sangat bergairah dengan proses-proses pembelajaran kritis, proses-proses penguatan di tingkat akar rumput, pengorganisiran organik berbasis komunitas. Kami pun menikah dan melembagakan kegiatan-kegiatan bersama komunitas ini dalam Lembaga Media Aksi Komunitas; dimana kami mengembangkan metode-metode pengorganisiran kultural terutama lewat teater dan sanggar belajar. Tahun 2011 saya dengan bantuan istri dan berdasar sumber utama : Augusto Boal dan pengalaman saya sendiri, berhasil menyusun semacam materi panduan workshop ‘Pelatihan Untuk (calon) Pelatih / Fasilitator’ metode Teater Kaum Tertindas atau waktu itu kami sebut Teater Pendidikan Kritis.

Akhirnya sekeluarga kami pindah ke Australia pada tahun 2012. Konteks masyarakatnya yang sangat berbeda membuat saya kesulitan untuk berkiprah dalam bidang Teater Kaum Tertindas. Sekali pernah seorang teman yang menjadi guru teater di sebuah SMA ternama menawari saya untuk melakukan projek di sekolahnya. Dia ingin saya menggarap lakon Ramayana seperti yang pernah saya kerjakan di Indonesia tahun 2008, dimana lakon itu saya interpretasikan ulang secara kritis baik tema maupun bentuk serta dengan penggarapan yang melalui proses-proses pengorganisiran komunitas. Setelah saya menandatangani sesuatu yang saya sendiri tak terlalu paham dengan menejer sekolah itu, ternyata tak ada kelanjutannya. Yah … Dimana-mana fenomena gobal-gabul tentu ada. Ya sudah, lantas saya banting setir mengadu hoki di bidang senirupa. Ini sementara.